• Welcome BVM Blog

    Teruslah mengasah ide-ide kreatif kalian, jangan berhenti disitu aja. Jika kita mau melakukan dengan sunggu" pasti BISA. Jadi teruslah membuat inovasi" baru.. So " Be Your Self "...
  • Translate

  • .:Silahkan Pilih:.

  • ::Collection::

  • My Popularity (by popuri.us)
  • ONLINE

Kebijakan AS Runtuhkan Bursa Global

JAKARTA – Rencana Amerika Serikat (AS) membatasi aktivitas perbankan direspons negatif oleh investor di bursa saham dunia dengan melakukan aksi jual,termasuk di Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (22/1/2010), Indeks Dow Jones jatuh sebanyak 216,9 poin atau 2,09 persen ke 10.172,98, Indeks Standard & Poor juga turun sebanyak 24,72 poin atau 2,21 persen ke 1.091,76. Begitu juga dengan indeks Nasdaq yang turun sebanyak 60,41 poin atau setara dengan 2,67 persen ke 2.205,29.

Sementara, pada pekan ini Indeks Dow Jones jatuh sebanyak 4,1 persen, begitu juga Indeks Standard & Poors turun 3,9 persen dan Indeks Nasdaq turun 3,6 persen. Pekan ini merupakan yang terburuk bagi Indeks Nasdaq dan Standard & Poors sejak Oktober lalu, sementara bagi indeks Dow Jones merupakan yang terburuk sejak Maret tahun 2008 lalu.

Indeks Hang Seng merosot 136,49 poin atau 0,65 persen ke level 20.726,18, Shanghai tergerus 30,27 poin atau 0,96 persen menjadi 3.128,59, dan Nikkei-225 terbenam 277,86 poin atau 2,56 persen ke level 10.590,55.

Runtuhnya bursa regional ini kemudian membuat gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan. IHSG akhirnya ditutup melemah 28,04 poin atau 1,07 persen ke level 2.610,34 setelah sempat terkoreksi sekitar 57 poin atau lebih dari 2 persen pada sesi pertama perdagangan.

Analis pasar modal Felix Sindhunata mengatakan, rencana AS menambah sentimen negatif dari kebijakan pengetatan kredit di China. Sementara dari dalam negeri, sejumlah pembobolan dana nasabah melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) juga memicu kekhawatiran terhadap membengkaknya investasi perbankan untuk meningkatkan sistem keamanannya.

“Alasan utamanya adalah kebijakan Obama dan pengetatan (moneter) di China sebab ekonomi dunia saat ini memang melihat pada perkembangan dua negara tersebut,” kata dia kepada Seputar Indonesia.

Felix melanjutkan, China saat ini menjadi perhatian utama karena mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.

Karena itu, pengetatan moneter di China dikhawatirkan berdampak pada pertumbuhan di kawasan Asia dan negara-negara mitra dagangnya. Sementara kebijakan Obama menuai banyak kritik terutama dari kalangan perbankan di AS.Kebijakan tersebut memang memberikan perlindungan bagi nasabah perbankan. Pembatasan gerak itu akan membuat laba perbankan menurun.

“Ini yang akhirnya membuat Wall Street melorot tajam, yang kemudian memberi sentimen negatif terhadap bursa regional dan IHSG,” paparnya.

Soal pembobolan ATM, Felix melihat pengaruhnya kecil. Sentimen domestik yang lebih besar adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang kemarin berada di level Rp9.388 per dolar AS dari sebelumnya Rp9.238.

“Investor mulai mengalihkan investasi ke dolar AS untuk mengurangi risiko,” katanya.

Meski begitu, Felix menilai, penurunan yang terjadi masih dalam tahap wajar. Dia juga meyakini dana asing belum keluar dari Indonesia meski kemarin transaksi jual bersih asing (foreign net sell) di pasar saham mencapai Rp1,014 triliun.

“Mereka hanya menggunakan momentum sentimen tersebut untuk ambil untung (profit taking) karena kenaikan IHSG juga sudah sangat tinggi.Dana asing mungkin masih akan keluar, tapi tidak akan masif,” ujarnya.

Berdasarkan data perdagangan BEI, transaksi jual asing kemarin mencapai Rp1,811 triliun, sedangkan transaksi beli Rp797,192 miliar.

Total transaksi asing mencapai Rp2,658 triliun atau 61 persen dari total nilai perdagangan di BEI kemarin sebesar Rp 4,356 triliun. Aksi jual oleh asing banyak terjadi pada saham-saham unggulan seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astra International Tbk (ASII),PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudi Sadewa menilai, anjloknya IHSG masih dalam taraf wajar.Kenaikan IHSG yang cukup tinggi sejak awal tahun hingga mendekati level 2.700 tentu sangat rawan profit taking.

“Begitu ada momen,seperti kebijakan Obama dan juga pengetatan moneter China, langsung digunakan untuk merealisasikan keuntungan,” katanya.

Terlepas dari dua sentimen tersebut, Purbaya juga menilai, sentimen dalam negeri berupa kasus pembobolan ATM menjadi kekhawatiran tersendiri.Apabila penanganannya tidak jelas, itu berpotensi rush (penarikan besar-besaran) oleh nasabah. “Kejelasan kasus ini menjadi perhatian investor,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: